Sabtu, 08 Agustus 2020 | 15:27 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Dock & Repair
Rabu, 08 April 2020 09:01

Docking.id: Ciptakan Ekosistem Digital bagi Galangan Kapal, Pelayaran dan Marine Vendor

Ayu Puji
Listiyo P. Subiakto (translogtoday)

JAKARTA - Saat ini semua sektor industri, termasuk maritim, dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Jika terlambat, mereka bisa tertinggal, bahkan tenggelam dalam persaingan yang semakin ganas.

Penerapan teknologi di industri maritim sangat krusial karena termasuk sensitif terhadap biaya. Perusahaan yang tidak mampu menawarkan efisiensi biaya, akan sulit bersaing di pasar.

Di Indonesia, usaha di bidang maritim sudah mulai mengadopsi teknologi, termasuk digitalisasi. Namun, masih banyak juga pelaku usaha yang kurang agresif dan mengandalkan pendekatan konvensional.

Sebagai contoh, perusahaan galangan kapal saat ini belum banyak memanfaatkan teknologi digital, terutama untuk marketing.

Dari sekitar 250 galangan kapal yang terdaftar di Kementerian Perindustrian, baru 38% atau sekitar 100 perusahaan yang sudah terekspose secara digital.

Beberapa galangan kapal sudah memasuki pengembangan secara digital tetapi masih kurang informatif dan statis. Ini menunjukkan mereka belum terlalu peduli terhadap digital marketing, padahal omzet setiap galangan kapal bisa mencapai ratusan miliar rupiah.

Di sisi lain, perusahaan pelayaran sebagai pengguna jasa galangan kapal sudah lebih agresif memanfaatkan teknologi digital. Kondisi ini akhirnya menimbulkan kesenjangan teknologi antara dunia pelayaran dan galangan kapal.

Tidak semua galangan kapal memiliki akses langsung ke perusahaan pelayaran dan begitu juga sebaliknya. Akibatnya, sering kali pelayaran terpaksa antre di satu galangan karena tidak punya akses ke beberapa galangan lain.

Selain itu, perusahaan pelayaran juga kurang memiliki rujukan ke pemasok peralatan kapal (marine vendor) secara lengkap.

Sering kali perusahaan pelayaran harus mencari vendor secara manual atau menghubungi rekan mereka satu per satu ketika mencari akses vendor diluar daerah operasional biasanya.

Cara ini menyita waktu dan biaya. Disisi lain, Vendor sendiri kesulitan menjual produknya karena belum ada marketplace atau layanan digital khusus untuk marine dan tidak ada aplikasi atau website yang secara spesifik dapat mem-boosting produk mereka ke pasar sesuai dengan target.

Ekspose Digital

Masalah ini berhasil dipecahkan oleh docking.id, sebuah platform digital karya anak bangsa. Platform berbasis web ini bisa menghubungkan pemilik kapal dengan galangan kapal di seluruh Indonesia, sekaligus memudahkan pencarian marine vendor.

“Melalui platform ini, kami ingin membantu galangan kapal dan marine vendor agar bisa terekspose secara digital,” cetus Listiyo P. Subiakto, Founder docking.id, belum lama ini.

Menurut Listiyo, docking.id dikembangkan secara khusus untuk menjembatani kesenjangan digital antara galangan kapal, pelayaran, dan marine vendor, sehingga memungkinkan mereka berinteraksi langsung.


Berdasarkan riset docking.id, galangan kapal dan pelayaran menyatakan butuh sebuah ekosistem marine secara digital. Oleh karena itu, mereka menyambut baik kehadiran docking.id.

“Dari sisi pasar sudah tervalidasi sehingga kami mulai kembangkan docking.id. Menjelang akhir 2018, kami pindah ke Bali untuk fokus bangun platform ini, lalu kembali lagi ke Jakarta setelah rampung 2 bulan kemudian,” ungkapnya.

Ekosistem Maritim

Setelah rampung, ternyata aplikasi itu semakin berkembang seiring dengan tuntutan pasar dan investor. Listiyo pun berencana membangun sebuah ekosistem industri maritim yang lebih komprehensif secara digital.

Tidak hanya menjembatani galangan kapal dan marine vendor dengan perusahaan pelayaran, ke depan docking.id ingin menyediakan maritime e-commerce, vessel management system &, charter/rental vessel, sharing container, crew deployment system dan sebagainya.

“Pekerjaan rumah kami sekarang adalah mengedukasi pasar, terutama vendor dan shipyard, bahwa dunia pelayaran sudah ke arah digital dan teknologi ini bermanfaat bagi bisnis mereka,” kata jebolan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya ini.

Bagaimana docking.id menghubungkan galangan kapal dan pelayaran atau vendor?

Listiyo menjelaskan, docking.id menyediakan dashboard tersendiri untuk galangan kapal (dock space), perusahaan pelayaran (informasi galangan dan marine vendor), dan marine vendor yang masing masing dari mereka bisa dengan mudah membuat akun dan meng-update informasi bisnisnya.

Dengan adanya tools ini, docking.id telah mendigitalisasi proses pengadaan dan proses persiapan docking hampir 40% dari keseluruhan proses.

Saat ini, sudah ada 218 galangan kapal terdata di docking.id, dan 14 galangan sudah memaksimalkan fasilitas docking.id ini, dimana mereka sudah sharing informasi waktu ketersediaan dock space sehingga perusahaan pelayaran bisa dengan mudah menjadwalkan reparasi kapal mereka.

Untuk mencari space docking, pengguna hanya perlu mengakses docking.id, pilih explore shipyard, kemudian masukkan data kapal, seperti jenis kapal, ukuran, metode docking, lokasi, dan waktu yang diinginkan.

Bahkan perusahaan pelayaran juga dapat memilih galangan dengan standart quality management ISO 9001, OHSAS 18001, ISO 14001 dan galangan yang sudah mempunyai fasilitas asuransi aset pelanggan.

Selanjutnya, docking.id akan memunculkan pilihan galangan kapal sesuai dengan kebutuhan pemesan, termasuk profil galangan kapal. Dan perusahaan palayaran tersebut dapat langsung mengakses galangan terpilih.

Tidak hanya itu, pelayaran juga dapat mengetahui marine vendor apa saja yang yang tersedia di sekitar galangan kapal tersebut, seperti infomasi agen pelayaran terdekat, vendor supply bunker dan sebagainya.

“Suatu saat, kami juga ingin dapat menyediakan informasi pilihan tempat menginap terdekat dengan galangan, sehingga perusahaan pelayaran dapat memetakan kemudahaan supply barang bahkan kemudahan akses transportasi dan akomodasi ke masing masing galangan, terlebih ketika mereka hendak mengirimkan tim mereka ke galangan,” kata Listiyo.

Dia bahkan berencana menyediakan layanan e-commerce, yang memungkinkan pengguna untuk dealing dan bertransaksi.

"Banyak orang mengira bahwa ketika mereka sudah memiliki website, maka mereka akan mudah ditemukan oleh mesin pencari. Padahal di balik itu, internet merupakan system terintegrasi yang sangat dinamis, sehingga diperluan tim khusus untuk mengelola SEO, SEM, keyword strategy dan sebagainya agar mudah dikenali oleh mesin pencari," jelas Listiyo.

Menurut dia, industri perkapalan di dalam negeri menyambut baik kehadiran docking.id. Ini antara lain ditunjukkan dengan pertumbuhan user yang terus meningkat.

Hingga Februari 2020, jumlah user di docking.id sudah mencapai 750 user, sementara jumlah kunjungan sejak website ini diluncurkan pada Oktober 2019 mencapai 26.000 visitor.

Listiyo mengungkapkan sejumlah investor tertarik mendukung pengembangan docking.id, bahkan mengajak untuk menggarap pasar Asia Pasifik.

Namun, dia mengaku masih memprioritaskan pasar Indonesia yang sudah sangat besar. Sebagai informasi, docking.id merupakan satu-satunya start-up marine asal Indonesia yang masuk program incubator PortXL Rotterdam untuk kelas Singapura periode 2019-2020.

Selain docking.id, ada 13 start-up dari Asia Pasifik yang dinyatakan lolos dalam program akselerator start-up maritim terbesar di dunia itu.

Saat ini untuk meningkatkan penetrasi ke pasar, Listiyo mengatakan docking.id aktif mengedukasi pelaku industri dan berkolaborasi dengan instansi terkait, antara lain melalui seminar, pameran, ataupun menjadi pembicara di beberapa kegiatan. (hlz/hlz)


Komentar