Sabtu, 30 Mei 2020 | 02:45 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Dock & Repair
Selasa, 14 April 2020 14:05

Rahasia Samudera Shipyard Bertahan di Tengah Badai Ketidakpastian

Ayu Puji

JAKARTA -

Kelesuan industri galangan kapal di dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir sepertinya tidak begitu dirasakan oleh PT Yasa Wahana Tirta Samudera. Galangan Samudera Shipyard yang berlokasi di Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah, ini masih terus menggeliat.

Saat mengunjungi galangan tersebut belum lama ini, beberapa kapal tampak sedang menjalani reparasi di dok, pier space-nya juga dipenuhi oleh bagian-bagian kapal yang sedang dibangun. Kondisi ini bertolak belakang dengan beberapa galangan lain yang relatif sepi dari aktivitas produksi.

“Kami fokus di reparasi, sehingga tidak terlalu terdampak kelesuan di industri galangan. Kami juga membangun kapal, tetapi itu istilahnya top up, bukan pekerjaan utama,” kata Musthofa, Managing Director Samudera Shipyard, saat ditemui di tempat kerjanya.

Dia mengakui, order kapal baru memang sepi tetapi pekerjaan reparasi terus meningkat seiring dengan bertambahnya armada kapal nasional. Sebagai contoh, permintaan reparasi tug dan barge yang 3 tahun lalu sepi kini melonjak karena tambang nikel dan batubara menggeliat.

Di galangan Yasa Wahana Tirta Samudera, sebagian besar pekerjaan adalah reparasi, bangunan baru hanya sekitar 10 persen. Ada beberapa fasilitas docking di galangan ini, yakni slipway A, B, C, slipway D dan E tipe airbag, serta building berth.

Berbagai jenis kapal mampu direparasi di galangan tersebut, seperti tug and barge, general cargo, container, tanker, roro ferry, dan kapal patroli. “Kami paling banyak melakukan reparasi tug and barge dan tanker, reparasi tanker LPG hampir tiga kali,” ujarnya.

Pada tahun 2019, Yasa Wahana Tirta Samudera mengerjakan reparasi 84 kapal dari target 90 kapal. Tahun ini, Musthofa menargetkan mengerjakan 112 kapal, baik untuk reparasi maupun bangunan baru.

Selain punya pelanggan tetap, Samudera Shipyard memiliki potensi besar untuk pekerjaan reparasi ataupun bangunan baru dari PT Samudera Indonesia Tbk, salah satu perusahaan pelayaran terbesar di Indonesia yang merupakan induk usahanya.

“Meski diberikan kesempatan oleh Samudera Indonesia selaku holding, kami tetap harus ikut tender secara business to business. Kami harus bisa menawarkan harga lebih rendah atau paling tidak sama dengan kompetitor,” ungkapnya.

Dia mengatakan Samudera Indonesia mempunyai lebih dari 110 anak dan cucu perusahaan, dimana setiap perusahaan punya Key Performane Index (KPI) sendiri. “Kami dikasih KPI oleh jajaran direksi. Kalau tidak tercapai ya sama, tidak ada perlakuan khusus untuk mendapatkan proyek,” kata Musthofa.

Di bawah bendera Samudera Shipyard, Yasa Wahana Tirta Samudera didukung oleh dua perusahaan lainnya, yakni PT Wahana Jaya Samudera (WJS) dan PT Galangan Samudera Madura (GSM).

WJS menangani running repair, fabricator project non-marine, general contractor, dan penyediaan material kapal. Adapun GSM adalah galangan kapal di Madura, Jawa Timur, yang merupakan ekspansi dari Yasa Wahana Tirta Samudera.

GSM berdiri di atas lahan seluas 6 hektare dan ditargetkan mampu membangun kapal hingga 10.000 DWT. Galangan ini akan dilengkapi sejumlah fasilitas, termasuk mess karyawan yang terpisah dengan galangan. “Kami sudah mengantongi izin dan tinggal konstruksi,” kata Musthofa.

Selain melayani reparasi, Yasa Wahana Tirta Samudera berpengalaman membangun kapal baru. Pada 2015, ketika pemerintah menggulirkan proyek Tol Laut dan hampir semua kapasitas galangan di dalam negeri penuh, Musthofa juga ‘kecipratan’ membangun dua unit kapal 1.200 DWT, yakni Sabuk Nusantara 106 dan Sabuk Nusantara 98.

Saat itu bahkan ada permintaan lagi untuk membangun kapal kontainer, tetapi ditolak karena galangannya sudah penuh. Musthofa beralasan, ingin menjaga kualitas dan penyerahan (delivery) kapal tepat waktu.

Alhamdulillah waktu itu dari segi kualitas kapal kami cukup bagus, delivery juga tepat waktu. Kami berhasil selesaikan sesuai kontrak dalam 2 tahun, meskipun delivery tetap disesuaikan dengan periode anggaran 3 tahun,” ungkapnya.

Saat ini, Yasa Wahana Tirta Samudera sedang membangun beberapa kapal kecil pesanan PT Pertamina Trans Kontinental (PTK). Fasilitas galangan di Semarang yang berdiri sejak 1976 ini sebenarnya mampu membangun 2 kapal kapasitas sampai dengan 1.500 DWT.

Kerja Sama

Untuk pengembangan usaha dalam jangka panjang, Samudera Shipyard bekerja sama dengan Tsuneishi dan Mitsui, galangan kapal dari Jepang. Nota kerja sama dengan Tsuneishi sebenarnya sudah ditandatangani sejak 2 tahun lalu tetapi kelanjutannya ditunda karena kondisi politik di Indonesia memanas menjelang Pemilu 2019.

“Belum lama ini direktur Tsuneishi datang lagi ke Jakarta mau melanjutkan kerja sama dengan Samudera. Selain Tsuneishi, juga ada Mitsui yang mengajak kerja sama, kami welcome,” kata Musthofa.

Menurut dia, Tsuneishi sudah melakukan survei lokasi di seluruh Indonesia, tinggal pilih daerah mana yang sesuai. Mayoritas kepemilikan perusahaan hasil kerja sama kemungkinan besar dari Jepang, sesuai dengan permintaan Tsuneishi.

Tsuneishi dan Mitsui memilih Samudera Indonesia karena sudah lama kerja sama di bidang pelayaran. Mitsui juga akan mengirimkan tim lagi untuk bicara lebih detil mengenai kelanjutan kerja sama.

Musthofa mengatakan, Samudera Shipyard juga sangat terbuka dengan kerja sama dalam negeri terkait manajemen pengelolaan galangan kapal, melalui sistem informasi galangan terintegrasi bernama SIAGA yang dikembangkan Samudera Shipyard.

“Sistem SIAGA ini membantu galangan menghadapi era Industri 4.0, mulai dari proses marketing, planning, procurement, production, inventory dan finance yang terintegrasi,” ungkapnya.

Kemampuan SDM

Meski berkolaborasi dengan perusahaan asing, Musthofa menegaskan industri galangan kapal di dalam negeri sebenarnya memiliki kemampuan dan bisa bersaing dengan galangan luar negeri.

“Secara kualitas dan kemampuan SDM tidak ada masalah. Saya dulu pernah bekerja di PT PAL (Persero), kualitas sudah kelas dunia. Kami bangun kapal perintis, kualitasnya bagus tidak ada masalah,” ujarnya.

Hanya saja, masalah biaya sangat mempengaruhi daya saing sebab hampir 70 persen biaya pembangunan kapal berasal dari material atau komponen, yang sebagian besar masih diimpor. Kondisi ini membuat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) kapal menjadi kecil.

Musthofa mengatakan, pembangunan ataupun reparasi kapal membutuhkan tenaga kerja terampil, sehingga mau tidak mau harus ada pendidikan dan pelatihan untuk mencetak tenaga kerja yang terverifikasi atau tersertifikasi.

Permintaan terhadap tenaga kerja terampil di industri perkapalan melonjak ketika pemerintah menggulirkan program Tol Laut pada 2015. Saat itu, galangan kapal sempat kekurangan pasokan tenaga kerja terampil sehingga mendorong lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan menghasilkan lebih banyak lulusan bersertifikasi.

“Bangun kapal kan harus butuh tenaga kerja skill. Karena ada pekerjaan, otomatis permintaan terhadap tenaga kerja meningkat. Mereka sertifikasi dulu, menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri,” ujar Musthofa.

Oleh karena itu, menurut dia, proyek pembangunan kapal oleh pemerintah sebenarnya sama dengan pemberdayaan SDM dan penciptaan lapangan kerja yang sangat efektif. “Pemerintah tidak perlu membiayai pun, masyarakat mau membiayai pendidikannya sendiri kalau memang akan mendapat pekerjaan,” ujarnya.

Pemerintah dapat memanfaatkan anggaran ‘menggaji’ SDM prakerja senilai Rp10,3 triliun per tahun dengan melanjutkan proyek pembangunan kapal. Apabila anggaran itu digunakan untuk membangun kapal, industri galangan pasti bangkit lagi dan menyerap ribuan tenaga kerja sehingga memberikan efek ekonomi langsung yang sangat besar.

“SDM prakerja diberikan pelatihan tetap kalau tidak ada pekerjaan atau proyek, mereka mau kerja dimana. Kalau anggaran itu digunakan untuk bangun kapal, galangan pasti butuh banyak tenaga kerja, industri pendukung juga akan hidup lagi,” kata Musthofa. (hlz/hlz)


Komentar