Rabu, 25 November 2020 | 06:47 WIB

Visit our social media :
Home / Logistic / Industry
Jumat, 17 April 2020 18:27

Wabah Covid-19 akan Ubah Wajah Bisnis Logistik, Ini Saran Pakar dan Praktisi

Translog Today
Hermawan Kartajaya

JAKARTA -

Pelaku usaha logistik harus segera menyesuaikan model bisnis dan menyiapkan strategi baru sebagai respons terhadap dampak wabah virus corona (Covid-19) agar mampu bertahan, sekaligus siap menghadapi perubahan bisnis setelah pandemi global itu berlalu.

Hal itu disampaikan oleh hampir semua narasumber dalam Logistics Industry Round Table bertajuk Surviving the Covid-19, Preparing the Post, yang selenggarkan oleh Markplus melalui aplikasi Zoom, Jumat (17/4).

Hermawan Kartajaya, pakar marketing yang menjadi pembicara utama dalam webinar itu menjelaskan, pelaku usaha harus memanfaatkan masa pembatasan sosial saat wabah Covid-19 ini untuk mengevaluasi dan merancang kembali model bisnis sehingga siap menghadapi tantangan baru setelah pandemi berakhir.

Menurut dia, kuartal pertama hingga kedua tahun ini menjadi masa krusial bagi pelaku usaha logistik untuk bertahan (surviving) atau servicing, sekaligus menyiapkan diri (preparing) setidaknya hingga kuartal ketiga mendatang.

“Sehingga nanti mulai kuartal ketiga atau keempat, perusahaan dapat mengaktualisasikan model bisnisnya yang baru sesuai dengan perubahan pasar dan tuntutan konsumen,” kata Hermawan, yang juga CEO MarkPlus.

Hal senada disampaikan oleh Ignasius Jonan, mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia serta mantan Menteri Perhubungan dan Menteri ESDM Kabinet Kerja.  Menurut dia, semua orang akan menyesuaikan diri terhadap social distancing atau physical distancing, termasuk dalam berbisnis sehigga pelaku usaha perlu menata ulang bisnisnya dengan pelanggan.

Life never be the same setelah wabah Covid-19 berakhir, cara bisnis akan berubah. Ke depan, bisnis logistik tidak sekadar mengirim barang tetapi harus bisa menjadi konsultan bagi pelanggan,” paparnya.

jonan

Menghadapi dampak Covid-19, Jonan menyampaikan dua saran, pertama yakni menerapkan teknologi informasi dan pelajari konsumen potensial. “Logistik di Indonesia yang kurang adalah penggunaan TI. Pengalaman saya, digitalisasi efektif meningkatkan efisiensi dan mengubah budaya bisnis menjadi lebih baik,” ujarnya.

Dia mengatakan, pada masa ‘setengah menganggur’ akibat dampak Covid-19  saatnya perusahaan mendekatkan diri ke pelanggan dan mencari tahu apa ekspektasi mereka. Melalui cara ini juga perusahaan akan mengetahui siapa pelanggan loyal dan potensial, mana yang tidak.

Pembicara lain, Direktur Utama PT Lookman Djaja, Kyatmaja Lookman mengungkapkan, wabah Covid-19 berdampak besar terhadap bisnis angkutan barang atau trucking, termasuk harus menyesuaikan operasional dan biaya.

Setidaknya ada beberapa hal ekstra di bisnis trucking akibat wabah Covid-19, di antaranya peningkatan safety pengendara dan kenaikan biaya untuk mencegah penyebaran virus di tengah kebijakan pembatasan sosial di berbagai daerah.

“Sopir truk, termasuk surat-surat yang dibawanya, bisa menjadi media efektif untuk menularkan virus corona karena mereka bergerak dan berinteraksi dengan banyak orang. Oleh karena itu, kami harus melengkapi mereka dengan masker, sarung tangan, disinfektan dan lain-lain,” ungkap Kyatmaja.

Dia juga memperkirakan, wabah Covid-19 akan mengubah cara orang melakukan bisnis, seperti pasca serangan teroris 9 September 2000. Sejak saat itu, protokol keamanan diperketat, semua gedung menggunakan metal detector.

Begitu juga wabah Covid-19 bakal membuat thermal gun, masker dan sarung tangan untuk sopir menjadi sesuatu yang biasa. Selain itu, digitalisasi dan data akan semakin meningkat untuk mengurangi interaksi langsung antar-manusia.

Dampak Covid-19

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Masita mengungkapkan, sejak wabah Covid-19 merebak, pertumbuhan bisnis logistik mengalami kontraksi tajam, terutama logistik business to business (B2B) yang mengangkut produk manufaktur.

Adapun, layanan business to consumer (B2C) dan consumer to consumer (C2C) relatif mampu bertahan. Namun, permintaan konsumen mulai bergeser ke komoditas primer (core products), seperti makanan dan produk segar.

“Wabah Covid-19 telah mendorong percepatan evolusi permintaan konsumen terhadap layanan logistik atau e-commerce dari produk manufaktur ke core products. Ini diluar perkiraan sebab sebelumnya core/fresh products dianggap sebagai last bite,” jelas Zaldy.

Perubahan tersebut menimbulkan tantangan cukup berat bagi pelaku usaha logistik sebab produk-produk segar membutuhkan penanganan tersendiri dan tidak mudah. “Dalam kondisi Covid-19 seperti sekarang, handling produk segar atau makanan menuntut pelayanan yang cepat tetapi juga murah,” ujarnya.

Zaldy mengungkapkan, merosotnya pertumbuhan bisnis logistik akibat Covid-19 menyebabkan persaingan semakin menantang. Di satu sisi, pelaku usaha dituntut memberikan pelayanan lebih cepat dan mudah (pick-up), tetapi di sisi lain biaya meningkat karena harus meningkatkan safety terhadap virus.

Penurunan di bisnis logistik juga diakui oleh Trisnawan Sanjaya, Wakil Ketum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Bidang Supply Chain & E-Commerce. Menurut dia, wabah Covid-19 berdampak besar terhadap lapis (tier) paling hulu, seperti logistik industri manufaktur.

“Bicara logistik harus melihat komoditasnya. Kalau logistik tier 1 seperti ritel dan kurir mungkin tumbuh, tetapi bulky atau kontainer pasti turun. Sebagai gambaran, ship call (di Tanjung Priok) anjlok dari 150 kapal menjadi 50 kapal. Begitu juga kargo di bandara (Soekarno-Hatta) dari 50 pesawat turun menjadi 35 pesawat,” ungkapnya.

Trisnawan mengatakan, perkembangan yang terjadi di bisnis logistik saat ini menuntut desain ulang rantai pasok mengantisipasi perubahan bisnis pasca-Covid-19. Beberapa layanan logistik yang harus ditingkatkan, antara lain untuk produk holtikultura dan produk kerajinan.

Menghadapi kondisi saat ini, dia menilai digitalisasi bisnis logistik memang dibutuhkan, terutama untuk tier 1. Namun, bagi pelaku logistik di tier terbawah atau hulu yang paling penting saat ini adalah bagaimana bisa bertahan dan mendapat pekerjaan.

“Logistik itu seperti pelari estafet, tidak berlari sendirian dan harus atur strategi dengan pelari yang lain, juga seperti spider web. Kalau tier bawahnya tidak survive pada akhirnya tier 1 juga tidak akan survive,” ujarnya.

Masa Depan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Mohamad Feriadi mengatakan, wabah Covid-19 membuat masa depan datang lebih cepat. “Pelaku usaha harus belajar lebih cepat dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen,” ujarnya.

Menurut Feriadi, dampak Covid-19 bergantung pada model bisnis masing-masing perusahaan. Bagi perusahaan berbasis digital dan berorientasi konsumen, kondisi saat ini bisa tumbuh. Namun, yang mengandalkan pelanggan korporasi akan mengalami penurunan bisnis.

Dia mengatakan, pelaku usaha yang bakal bertahan dari dampak Covid-19 adalah yang memiliki jaringan fisik luas, teknologi yang baik, dan business model yang tepat.

Peningkatan bisnis di layanan ritel dan kurir tersebut diakui oleh Chief Marketing Officer PT SiCepat Ekspres Indonesia Wiwin Dewi Herawati. Dia mengungkapkan, perubahan perilaku konsumen yang sedang menjalankan social distancing membuat permintaan terhadap jasa kurir dan ekspedisi meningkat.

“Sekarang rata-rata trennya bagus, tetapi kami harus tetap melihat reposisinya sebab ekspedisi tidak akan jalan kalau mitra kami tidak jalan, terutama IKM yang ikut terpukul Covid-19,” ujarnya.

 

Oleh karena itu, tutur Wiwin, pihaknya ikut mengampanyekan wajib pakai masker agar IKM bisa berproduksi dan membantu sektor industri yang turun dengan memberikan solusi untuk meningkatkan penjualan dengan biaya promosi. (hlz/hlz)


Komentar