Minggu, 05 Juli 2020 | 19:50 WIB

Visit our social media :
Home / Regulation / General News
Jumat, 24 April 2020 12:33

Stimulasi Ekonomi di Tengah Covid-19, Bambang Haryo: Turunkan Harga BBM dan Pangan!

Translog Today

JAKARTA -

Pemerintah seharusnya bisa mengatasi keterpurukan ekonomi akibat wabah Covid-19 saat ini apabila tegas dalam membereskan masalah energi dan pangan yang diduga masih dikuasai kartel atau mafia.

Menurut Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Timur, Bambang Haryo Soekartono, energi dan pangan merupakan dua faktor penting yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan dunia usaha di tengah kesulitan ekonomi akibat wabah Covid-19.

“Harga energi dan pangan harus transparan sehingga murah dan pasokannya terjamin. Saya percaya Presiden Jokowi akan tegas memberantas mafia energi dan pangan. Bila ini dilakukan dengan benar, energi dan pangan yang murah akan menjadi stimulus bagi ekonomi sehingga membantu masyarakat dan pelaku usaha bertahan hidup dari kesulitan saat ini,” ujarnya, Jumat (23/4).

Anggota DPR RI periode 2014-2019 ini mengatakan, masalah energi yang paling utama adalah bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar. “Bahan bakar solar sangat penting karena dibutuhkan manufaktur besar hingga UMKM, juga transportasi dan logistik, pelayaran, perikanan, serta kelistrikan. Dampak ekonominya sangat besar,” tambahnya.

Bambang Haryo mengharapkan Presiden Jokowi serius memperhatikan masalah BBM serta memberantas kartel atau mafia energi. Dia mempertanyakan harga BBM yang belum disesuaikan sejak Februari 2020, padahal harga minyak dunia terus merosot, bahkan minus atau di bawah nol dollar AS.

Pada Selasa (21/4), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) atau light sweet sudah menyentuh minus US$40,32 per barel untuk kontrak Mei. Harga minyak Brent juga anjlok ke level US$16,98 per barel, terendah dalam 20 tahun terakhir.

“Harga BBM di Indonesia saat ini tidak sesuai dengan harga sebenarnya, bahkan jauh lebih mahal dibandingkan negara produsen minyak lainnya. Seharusnya harga BBM di dalam negeri turun, terutama solar, baik subsidi maupun subsidi,” tegasnya.

Di Malaysia, misalnya, mengutip data Loanstreet, harga bahan bakar RON 95 per 18 April sebesar RM1,25 atau Rp4.395 per liter, harga RON 97 sebesar RM1,55 (Rp5.450 per liter) dan diesel RM1,43 (Rp5.028 per liter).

Sebagai perbandingan, sejak 1 Februari 2020 Pertamina belum merevisi harga BBM. BUMN itu menjual Pertamax (RON 92) sebesar Rp9.000 per liter, Pertamax Turbo (RON 98) Rp9.850, Dexlite Rp9.500, dan Bio Solar Rp9.400 per liter. Adapun Premium (RON 88) yang dijual Rp6.450 per liter, lebih mahal dibandingkan dengan RON 97 di Malaysia.

Dia mengatakan harga solar yang murah juga akan menurunkan tarif listrik PLN secara signifikan sehingga mengurangi beban industri dan UMKM, sebab sekitar 80% biaya pembangkit listrik berasal dari energi, seperti solar dan batu bara. “Kalau PLN transparan, tarif listrik harusnya sudah turun sekitar 25%, apalagi harga batu bara saat ini juga sudah turun lebih dari 50%,” ungkapnya.

Bambang Haryo berharap pemerintah melalui Kementerian ESDM meminta Pertamina untuk menyesuaikan harga BBM. “Kalau harga BBM murah, industri di dalam negeri dan UMKM pasti terbantu. Setidaknya mereka bisa bertahan hidup di tengah kesulitan akibat Covid-19,” ujarnya.

Dia juga mendesak pemerintah memperhatikan masalah pangan yang juga masih dikendalikan oleh mafia dan kartel, sehingga harganya selalu bergejolak dan sering mengalami kelangkaan pasokan.

“Presiden harus tegas memerintahkan para menterinya agar menjamin harga pangan terjangkau dan pasokan aman. Menteri yang dinilai tidak sanggup sebaiknya dipecat saja. Satgas Pangan juga harus bertindak tegas, apalagi ketika rakyat kesulitan seperti sekarang,” tandasnya. (hlz/hlz)


Komentar