Selasa, 24 Mei 2022 | 21:52 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Dock & Repair
Minggu, 31 Oktober 2021 20:13

Kenaikan Harga Batu Bara Gairahkan Galangan Kapal di Kaltim

Translog Today

JAKARTA -

Industri galangan kapal di Kalimantan Timur kembali bergairah. Pemicunya adalah harga batu bara, komoditas tambang andalan Kaltim, terus menanjak sejak beberapa belakangan.

Harga batu bara yang menggiurkan ini merangsang perusahaan tambang meningkatkan produksi sehingga kebutuhan tongkang untuk angkutan batu bara semakin besar. Pada saat yang sama, permintaan docking tongkang dan tugboat juga meningkat karena aktivitas dan jumlahnya terus bertambah.

Menurut Ketua DPC Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Kaltim, Untung Surapati, gairah industri pertambangan di Kaltim karena kenaikan harga batu bara menyebabkan permintaan tongkang meningkat.

"Orang berlomba-lomba membangun tongkang karena kekurangan armada. Pemicunya harga batu bara melonjak, tertinggi dalam 10 tahun terakhir," kata Direktur PT Surya Rafi Bersaudara, galangan kapal berbasis di Samarinda, seperti dikutip dari Buletin Iperindo Edisi 7/II/2021.

Untung memperkirakan utilisasi galangan kapal di Kaltim saat ini mencapai 70 persen. Galangan mengalokasikan sebagian kapasitasnya untuk docking kapal milik sendiri. "Galangan kapal di Kaltim agak berbeda dari daerah lain karena di sini pemilik galangan juga pemilik kapal," ujarnya.

Tingginya kebutuhan kapal menyebabkan banyak kapal kesulitan docking sehingga galangan mulai menyiapkan penambahan kapasitas. Apalagi, selain kapal dari Kaltim, banyak kapal dari daerah lain yang beroperasi sekaligus melakukan docking di wilayah Kaltim.

Untung mengungkapkan, aktivitas galangan kapal di wilayahnya sempat terganggu akibat kelangkaan oksigen beberapa waktu lalu. Kondisi ini juga terjadi di daerah lain, sebab saat itu pemerintah memprioritaskan pasokan oksigen untuk perawaran pasien Covid-19 menyusul lonjakan kasus akibat munculnya varian Delta.

"Bisnis docking sedang bagus, apalagi sejak pasokan oksigen normal. Sejak pandemi, galangan lebih banyak mengerjakan reparasi, sedangkan untuk bangunan baru sesuai order," jelasnya.

Dilema Harga Baja

Meskipun demikian, tutur Untung, galangan kapal menghadapi dilema karena pada saat yang sama harga bahan baku terutama plat baja melonjak hingga 40 persen. "Kenaikan harga baja kali ini paling lama. Harganya sekarang mencapai Rp18.000 per kg," ungkapnya.

Kondisi ini, menurut Untung, akibat kebijakan Pemerintah China menarik subsidi baja yang mencapai 13%. Di sisi lain, pasokan baja dari dalam negeri tidak mencukupi sehingga kenaikan harga tidak bisa dihindari.

Akibatnya, harga kapal juga terdongkrak. Beruntung lonjakan harga ini diimbangi oleh sewa kapal yang juga mengalami kenaikan hampir sama.

Dia mengatakan kenaikan harga baja sebenarnya berbanding lurus dengan harga mesin. Namun, karena mesin sudah dipesan jauh hari sebelumnya sehingga harganya belum mengalami kenaikan. "Kebanyakan mesin sudah inden 8-12 bulan sebelumnya. Sebagian besar mesin dari Jepang karena dianggap bagus," ungkapnya.

Meskipun galangan kapal di dalam negeri menghadapi banyak tantangan, Untung optimistis industri ini tidak akan mati. Selain kapal wajib docking berkala untuk memenuhi klas BKI dan syarat berlayar dari Syahbandar, dia menilai pemerintah cukup memperhatikan industri ini.

"Perhatian pemerintah ini bisa dilihat dari visi Poros Maritim Dunia dan program Tol Laut, serta pembangunan infrastruktur maritim yang cukup masif. Pemerintah juga memberikan insentif pajak dan tarif listrik saat pandemi yang sangat membantu industri galangan," ujarnya.

Untung berharap pemerintah konsisten mewujudkan visi tersebut melalui kerja nyata serta kebijakan yang relevan dan kondusif bagi perkembangan industri galangan kapal nasional. (hlz/hlz)


Komentar