Selasa, 18 Januari 2022 | 23:55 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Dock & Repair
Selasa, 02 November 2021 12:52

Cara Bertahan SMI Shipyard dari Amukan Pandemi

Ayu Puji
Sudirwan (Translogtoday)

JAKARTA -

Seperti dialami industri pada umumnya, PT Samudra Marine Indonesia (SMI) atau SMI Shipyard juga terdampak pandemi Covid-19.

Namun, galangan kapal yang berlokasi di Bojonegara, Serang, Banten, ini kembali bangkit seiring dengan geliat perekonomian yang mulai pulih dari dampak pandemi.
 
Meskipun kinerjanya belum setinggi seperti sebelum pandemi, kegiatan di salah satu galangan kapal terbesar di Indonesia itu terus menunjukkan peningkatan. 
 
Sudirwan, Manager Marketing PT Samudra Marine Indonesia, mengungkapkan saat ini kapasitas galangan SMI terutama digunakan untuk pekerjaan reparasi dan docking, sisanya sekitar 20 persen untuk pembangunan kapal baru. 
 
“Kinerja kami pada tahun 2021 ini relatif sama dengan tahun lalu. Sejak pandemi kinerja kami memang berkurang, tetapi kalau Covid-19 semakin terkendali bahkan hilang, saya (Kami) yakin kinerja kami semakin baik,” katanya seperti dikutip dari Buletin Iperindo Edisi 7/II/2021.
 
Menurut Sudirwan, sebagian besar pelanggannya merupakan pelayaran nasional, tetapi tidak sedikit pula kapal asing yang mempercayakan reparasi kapalnya di galangan SMI.
 
Bahkan, ketika virus corona merebak di seluruh dunia pada tahun lalu, SMI sempat mendapat orderan reparasi kapal dari luar negeri. Pasalnya, saat itu banyak negara menutup pintu masuknya, seperti China, Singapura dan Malaysia. 
 
“Agent Singapura menghubungi kami sehingga mengalihkan beberapa kapal luar negeri ke galangan kami. Kapal luar negeri jadwal dockingnya ketat dan kedatangan kapal mereka tepat waktu ,” katanya.
 
Kepercayaan pelayaran terhadap SMI Shipyard tidak terlepas dari kemampuan dan pelayanan galangan kapal yang berdiri sejak 2006 ini.

Saat ini, SMI memiliki empat fasilitas graving dock, yakni dua graving dock lama berkapasitas 60.000 (80.000) DWT masing-masing berukuran 215 x 35 meter serta 215 dan 40 meter. 
 
Adapun dua graving dock lainnya yakni berukuran 280 x 45 meter dan 320 x 55 meter dengan kapasitas 100.000 (180.000) DWT yang dibangun pada 2015 (2012) dan selesai pada tahun 2017 (2015).

Fasilitas graving dock tersebut sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan penunjang seperti Jib Crane sebanyak 11 unit dengan berkapasitas sampai 40 Ton.
 
Fasilitas lainnya yakni workshop auto blast & paint, slipways, airbag system, jetty sepanjang lebih dari 2.000 meter untuk mendukung floating repair. Untuk pembangunan kapal baru, SMI menyediakan lahan berikat seluas 42 Ha yang mampu membangun enam tongkang sekaligus.
 
Secara keseluruhan, ungkap Sudirwan, SMI Shipyard mampu memperbaiki dan membangun kapal baru dengan berbagai tipe, ukuran dan jenis hingga mencapai lebih dari 500 unit kapal per tahun.
 
Kelangkaan Oksigen Sudirwan mengakui, ketika kasus Covid-19 melonjak beberapa bulan lalu, semua galangan kapal termasuk SMI kesulitan mendapatkan pasokan oksigen yang digunakan untuk pengelasan. 
 
Pasalnya, saat itu pemerintah memprioritaskan seluruh pasokan oksigen di dalam negeri untuk perawatan pasien Covid-19. Beruntung kondisi ini tidak berlangsung lama sehingga galangan bisa kembali mendapatkan pasokan oksigen.
 
Dia mengungkapkan, pandemi Covid-19 memberikan pelajaran berharga bagi industri galangan kapal di dalam negeri, terutama SMI Shipyard. Aktivitas kerja galangan kini lebih bersih dan teratur, serta lebih cepat mengadopsi perkembangan teknologi.
 
Sejak pandemi, SMI memperketat prosedur kedatangan kapal untuk reparasi. Semua kru kapal dilarang turun dan petugas yang naik ke atas kapal juga dibatasi. Setiap orang yang masuk ke galangan juga wajib menjalani tes antigen dan prokes ketat.
 
“Prosedur ini perlu dilakukan karena di galangan kapal banyak orang yang bekerja. Kami tidak ingin kecolongan karena ada yang terkena virus corona. Di internal, kami tiap minggu melakukan tes antigen secara random, bahkan ketika kasus Covid-19 melonjak tes antigen dilakukan seminggu dua kali,” ungkapnya.
 
Sudirwan mengklaim SMI termasuk salah satu galangan kapal di Indonesia yang melengkapi diri dengan sistem protokol kesehatan, antara lain pengecekan suhu tubuh otomatis dan monitoring kesehatan karyawan dan melakukan Vaksinasi bagi semua karyawan dan subkon.
 
Dia mengakui penerapan prokes ketat membuat beberapa pekerjaan tertunda, tetapi hanya hitungan hari sebab manajemen sudah mengantisipasi kemungkinan tersebut. Penundaan itu misalnya karena ada karyawan yang sakit atau vendor tutup karena pembatasan kegiatan ekonomi selama pandemi.
 
Agar komunikasi dengan vendor dan pelanggan tetap lancar, lanjut Sudirwan, pihaknya rutin melakukan virtual meeting dan kegiatan lain secara daring. Dengan demikian, meskipun tidak bisa bertemu secara langsung, para pelanggan tetap yakin pekerjaan berjalan lancar.
 
Intinya, segala hal dilakukan agar perusahaan bertahan hidup (survive). Namun, upaya tersebut tentunya tetap membutuhkan dukungan dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk perusahaan pelayaran nasional.
 
Dukungan dari pemerintah, misalnya menghadirkan suku bunga bank dan harga plat baja yang kompetitif di dalam negeri, selain memberikan insentif pajak.

“Galangan kapal kan juga membantu pemerintah secara tidak langsung. Dulu sebelum ada SMI, kapal besar kelas Panamax dan lain-lain repair-nya ke Singapura. Sejak ada kami, mereka tidak ke sana lagi,” ujarnya. 
 
Dia berharap pemerintah lebih gencar mempromosikan galangan dalam negeri, sebab sudah memiliki kemampuan membangun dan mereparasi kapal-kapal besar dan canggih, termasuk kapal perang.

“Kalau ada kapal dari luar negeri yang direparasi di dalam negeri kan bagus, bisa mendatangkan devisa dan penerimaan pajak,” kata Sudirwan. 
(hlz/hlz)


Komentar