Selasa, 18 Januari 2022 | 22:50 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Dock & Repair
Kamis, 04 November 2021 13:21

Bisnis Interior Kapal PT Laksana Tekhnik Makmur Tetap Eksis di Tengah Krisis

Editor
Suwarno (dok pribadi)

JAKARTA -

Meski terdampak pandemi Covid-19, PT Laksana Tekhnik Makmur terus berkiprah di industri penunjang perkapalan.

Perusahaan yang bergerak di bisnis manufaktur komponen otomotif dan interior kapal ini tetap eksis di tengah susutnya permintaan dari industri perkapalan dalam negeri.
 
Sejak beberapa tahun terakhir, ditambah pandemi corona pada awal tahun 2020, banyak rencana renovasi interior kapal yang ditunda. Belum lagi, proyek pembangunan kapal baru sangat minim sehingga kebutuhan interior kapal merosot.
 
Pendiri PT Laksana Tekhnik Makmur H. Suwarno mengungkapkan, potensi dan kebutuhan interior kapal di dalam negeri sebenarnya cukup besar seiring dengan tingginya kebutuhan angkutan laut di Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
 
Namun, dia mengakui, permintaan interior kapal merosot dalam beberapa tahun terakhir karena tidak ada pembangunan kapal baru, ditambah banyak pembatalan renovasi interior kapal akibat dampak pandemi.
 
“Kami sendiri masih ada pekerjaan interior kapal sisa dari proyek tahun 2019. Rencana renovasi pada tahun lalu juga cukup banyak tapi batal,” kata Suwarno, yang mendirikan PT Laksana Tekhnik Makmur pada 1998.
 
Dia mengatakan industri interior kapal sulit pulih selama belum ada pembangunan kapal baru. Beruntung, perusahaannya masih rutin mendapatkan pekerjaan untuk renovasi interior kapal PT ASDP Indonesia Ferru (Persero). 
 
“Setahu kami ASDP sudah berencana merenovasi kapal-kapalnya sejak 2020 tetapi tertunda. Meski demikian, tiap bulan selalu ada permintaan renovasi interior kapal. Selain ASDP, ada juga pekerjaan dari PT IKI, PT Dumas, dan proyek-proyek kecil lain,” ungkapnya seperti dikutip dari Buletin Iperindo Edisi 7/II/2021. 
 
Meskipun baru terjun di bisnis interior kapal 6 tahun lalu, PT Laksana Tekhnik Makmur sudah mampu memasok beragam produk sesuai dengan standar ISO dan ASDP. Seluruh produk sudah diproduksi di dalam negeri dan memenuhi ketentuan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). 
 
Beberapa produk interior kapal yang dihasilkan Laksana Tekhnik, antara lain lantai, plafon, lining, kursi (fixed atau reclaining), tatami (kasur), jendela, pintu, kursi kapten, dan navigasi.

“Bisnis interior kapal menyumbang 30-35 persen terhadap omzet perusahaan dan bisnis ini terus berkembang,” ungkapnya.
 
Menurut Suwarno, bisnis utama PT Laksana Tekhnik Makmur pada awalnya memproduksi aksesoris otomotif dari metal dan plastik. Perusahaan yang dirintis dari sebuah bengkel ini sudah berpengalaman memasok komponen OEM (Original Equipment for Manufacturing) selama lebih dari 20 tahun ke Grup Astra.
 
“Kami melakukan riset pasar dan eksperimen sehingga produk kami bisa diterima oleh pasar. Produk kami juga menyesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dan standar yang ditentukan,” jelasnya.
 
Untuk menunjang kegiatan produksi, PT Laksana Tekhnik Makmur mempekerjakan sekitar 300 karyawan di tiga pabrik, yakni Pabrik 1 seluas 1.000 m2 dengan bangunan 1.000  m2 untuk produksi komponen metal, Pabrik 2 seluas 4.000 m2 (bangunan 3.500 m2) untuk komponen metal, dan Pabrik 3 seluas 13.000 m2 (bangunan 5.000 m2) untuk komponen plastik. Saat ini, perusahaan memproduksi lebih dari 500 item komponen kendaraan berbagai tipe. 
 
Suwarno mengungkapkan, industri interior kapal di dalam negeri juga menghadapi sejumlah tantangan seperti halnya galangan kapal. Di antaranya produk impor dari China yang lebih murah dan harga bahan baku tidak stabil.

“Produk impor memang relatif murah tetapi pabriknya di negara lain, importasinya juga butuh proses dan waktu lebih lama,” kata Suwarno.
 
Dia mengatakan salah satu penyebab harga produk lokal kurang kompetitif karena pemasok bahan baku masih menerapkan distributor tunggal. Akibatnya, harga bahan baku menjadi lebih mahal hingga lebih 10 persen.

“Harusnya distributor tunggal tidak ambil keuntungan terlalu besar atau pabrikan punya beberapa distributor agar terjadi persaingan sehat,” ujarnya.
(hlz/hlz)


Komentar