Selasa, 18 Januari 2022 | 22:38 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Kamis, 04 November 2021 12:34

Ikut Cegah Perubahan Iklim, Indonesia Komitmen Kembangkan Green Ports

Translog Today
Terminal Teluk Lamong, salah satu pelabuhan ramah lingkungan (Pelindo III)

JAKARTA -

Pemerintah Indonesia berkomitmen menciptakan pelabuhan yang ramah lingkungan (green ports) sebagai kontribusi bagi pengurangan gas rumah kaca dari sektor transportasi. 

Hal ini disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat menjadi pembicara kunci secara daring pada kegiatan di "Indonesia Pavilion COP26”, yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Selasa (2/11) malam.

Kegiatan ini adalah bagian dari partisipasi Indonesi pada Konferensi Perubahan Iklim Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), yang berlangsung di Glasgow, Skotlandia.

“Sektor transportasi, khususnya di sektor transportasi laut menjadi salah satu kontributor utama perubahan iklim. Perlu dilakukan upaya pengendalian iklim melalui pengelolaan pelabuhan yang ramah lingkungan, demi menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik di daerah pelabuhan,” ujar Menhub.

Menhub mengungkapkan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan pelabuhan yang ramah lingkungan.

Upaya itu antara lain: meratifikasi konvensi internasional tentang pencegahan pencemaran dari kapal atau MARPOL Annex VI, penggunaan peralatan listrik dalam kegiatan bongkar muat, dan penggunaan truk berbahan bakar gas di area pelabuhan.

Selain itu, pengembangan aplikasi berbasis internet untuk pendaftaran angkutan barang dari pengirim ke pengangkut, serta penggunaan energi surya di fasilitas pelabuhan seperti, penerangan jalan sel surya dan lampu LED. 

“Kami berharap aksi mitigasi perubahan iklim di area pelabuhan, akan mengurangi emisi secara signifikan dan berkontribusi pada pengurangan gas rumah kaca dari sektor transportasi. Langkah ini menjadi titik awal positif, untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat di daerah pelabuhan,” kata Menhub.

Wilayah Asia dan Afrika diprediksi mengalami peningkatan emisi paling tajam karena pertumbuhan lalu lintas pelabuhan yang signifikan, namun memiliki langkah-langkah mitigasi yang terbatas.

Berdasarkan Kajian tentang Gas Rumah Kaca dari Organisasi Maritim Internasional/International Maritime Organisation (IMO), pada 2020 memperkirakan kegiatan pelayaran telah mengeluarkan total sekitar 1 juta ton CO2 pada 2018.

Sementara itu berdasarkan laporan OECD pada tahun 2014, sebagian besar emisi pengiriman di pelabuhan diperkirakan tumbuh hingga empat kali lipat pada 2050. Hal tersebut akan membawa emisi CO2 dari kapal di pelabuhan menjadi sekitar 70 juta ton pada 2050 dan emisi NOx hingga 1,3 juta ton. 

Semua pihak diharapkan dapat mencapai kesepakatan dalam upaya mencapai target global, yaitu mencegah kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 2 derajat celcius, dan bisa menguranginya sebesar 1,5 derajat celcius. (hlz/hlz)


Komentar