Selasa, 18 Januari 2022 | 23:13 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Dock & Repair
Jumat, 05 November 2021 10:19

PT Dok Bahari Nusantara: Andalkan Reparasi Tugboat dan Tongkang PLTU

Editor
Tugboat (DBN)

CIREBON -

PT Dok Bahari Nusantara (DBN), galangan kapal berbasis di Cirebon, Jawa Barat, boleh dibilang beruntung. Ketika banyak galangan lain sepi order dan terimbas dampak pandemi, aktivitas perusahaan yang berdiri sejak tahun 2012 ini terus berjalan. Tidak ada satu karyawan pun yang dirumahkan.
 
Saat ini, DBN masih mengerjakan pembangunan beberapa kapal, di antaranya dua kapal pesanan Kementerian Perhubungan yakni KM Sabuk Nusantara 54 ditargetkan serah terima pada Desember 2021 dan kapal RORO 500 DWT. 
 
DBN juga sedang menyelesaikan tiga unit harbour tug 3200 HP pesanan PT Pertamina Trans Kontinental, yang pengirimannya dijadwalkan pada akhir 2021. 
 
Sudiding Irsyad, pendiri sekaligus Komisaris Utama DBN, mengungkapkan pembangunan kapal-kapal itu merupakan kelanjutan dari pekerjaan pada tahun 2020 setelah mendapat kontrak menjelang akhir 2019. 
 
Bahkan, ada kapal yang pembangunannya mundur yakni RORO 500 DWT dari seharusnya pada tahun 2021 menjadi Mei 2022 sebab Kemenhub melakukan refocusing anggaran akibat pandemi.
 
“Secara umum kinerja galangan kapal di dalam negeri, khusus Cirebon, lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Tapi kami cukup beruntung karena load galangan masih bagus karena masih ada pembangunan kapal dan pekerjaan reparasi,” kata Diding.
 
Saat ini, menurut dia, DBN menggunakan sekitar 40 persen kapasitas galangan untuk pekerjaan reparasi dan docking. Posisi DBN memang cukup strategis karena banyak tugboat dan tongkang (tug and barge) yang bongkar batu bara di sejumlah PLTU sekitar Cirebon.
 
Sebagai informasi, ada sejumlah pembangkit listrik tenaga uang (PLTU) di sekitar Cirebon, antara lain PLTU Indonesia Power, PLTU Cirebon 2 Indika Energy, dan PLTU Indramayu. Selain itu, banyak industri di sekitar Jawa Barat yang bongkar batu bara di pelabuhan sendiri.
 
Diding menjelaskan, galangan DBN mampu melakukan reparasi tongkang ukuran sampai dengan 300 feet dan bangunan baru panjang hingga 90 meter (4.500 DWT). Jenis kapal yang pernah dibangun mulai dari tugboat, kapal patroli, kapal perintis, kapal ternak, hingga kapal kontainer 100 TEUs dengan panjang 70 meter. 
 
DBN memiliki dua galangan yang dilengkapi fasilitas untuk mendukung pembangunan dan perbaikan kapal, yakni DBN Unit 1 seluas 1,3 hektare di area Pelabuhan Cirebon dan DBN Unit 2 seluas 1 ha di komplek Pelabuhan Nusantara, Kejawanan, Cirebon.
 
Diding mengungkapkan, galangan kapal di dalam negeri berusaha bertahan di tengah berbagai tantangan yang terus mancul. Mulai dari belum adanya order pembangunan kapal baru, suku bunga tinggi, ketergantungan komponen impor, impor kapal, hingga dampak pandemi Covid-19. 
 
“Galangan kapal kini juga dibebani harga baja yang melonjak lebih dari 50 persen. Belum lagi dampak kenaikan nilai tukar dan refocusing anggaran sehingga outstanding meningkat,” ujarnya.
 
Sebelum pandemi, ungkap Diding, harga baja masih berkisar Rp9.000-Rp10.000 per kg tetapi kini melonjak menjadi lebih dari Rp17.000 per kg. Kenaikan harga ini membebani galangan yang membangun kapal baru karena kontrak lama tidak mau eskalasi harga. 
 
Dalam kondisi ini, dia berharap pelanggan khususnya instansi pemerintah dan badan usaha milik negara (BUMN) yang membangun kapalnya di galangan nasional memiliki kesepahaman yang sama tentang dampak pandemi. 
 
Mind set semua pemangku kepentingan harus sama tentang pandemi dan berbagi beban. Galangan sudah menanggung kenaikan biaya untuk pelaksanaan protokol Kesehatan dan rapid test/swab rutin sehingga perlu disupport pemerintah,” kata Diding.
(hlz/hlz)


Komentar