Selasa, 18 Januari 2022 | 22:42 WIB

Visit our social media :
Home / Corporation / Corporate Action
Selasa, 04 Januari 2022 15:11

Pelindo Serahkan Operasi dan Inbreng Saham ke Subholding

Translog Today

JAKARTA -

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) / Pelindo mengambil dua langkah aksi korporasi pada Subholding, yakni serah operasi bisnis dan inbreng atau pengalihan saham Pelindo pada anak perusahaan kepada Subholding sesuai klaster bisnis masing-masing. 

Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat bisnis inti Pelindo pasca-merger sebagai bagian dari keseluruhan restrukturisasi BUMN Pelabuhan. 

Pada 29 Desember 2021 lalu, empat Subholding Pelindo secara resmi efektif beroperasi per 1 Januari 2022, ditandai dengan penandatanganan kesepakatan serah operasi bisnis dari Pelindo kepada PT Pelindo Terminal Petikemas, PT Pelindo Multi Terminal, PT Pelindo Jasa Maritim dan pengalihan usaha kepada PT Pelindo Solusi Logistik. 

“Merger yang Pelindo lakukan adalah perubahan mekanisme bisnis pada pelabuhan di Indonesia, yang tadinya pembagian bisnis berdasar wilayah kerja, kemudian berubah menjadi pembagian bisnis berdasarkan klaster bisnis,” ujar Wakil Direktur Utama Pelindo Hambra, Selasa (4/1/2022).

Setelah proses merger selesai, lanjut Hambra, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penataan bisnis sesuai klaster bisnis.

Subholding Pelindo ini memiliki tiga tugas utama, yakni menentukan kebijakan layanan pelabuhan sesuai lini bisnisnya yang selaras dengan kebijakan strategi Pelindo, menjalankan kuasa dan tugas operasional dari Pelindo, serta sebagai revenue generator.

Pembentukan empat Subholding di bawah Pelindo ini dilakukan untuk mengelola bisnis inti Perusahaan, dimana masing-masing Subholding  juga menjadi induk bagi anak perusahaan eks Pelindo I-IV sesuai dengan lini bisnisnya.

“Serah Operasi antara Pelindo kepada Subholding ini terhitung mulai 1 Januari 2022 dan untuk bentuk kerjasamanya kami menggunakan skema Revenue Sharing,” ujar Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono. 

Setelah proses serah operasi, kemudian dilanjutkan dengan pengalihan saham (inbreng) Pelindo pada Anak Perusahaan kepada Subholding sesuai klaster pelayanan petikemas, pelayanan non petikemas/multi terminal dan pelayanan jasa maritim atau pada tiga Subholding Pelindo yakni PT Pelindo Terminal Petikemas, PT Pelindo Multi Terminal, PT Pelindo Jasa Maritim.

Proses restrukturisasi Pelindo ini kemudian akan dilanjutkan dengan pemurnian bisnis Anak dan Cucu Perusahaan Pelindo di masing-masing klaster.  

“Pada 1 Januari 2022, Subholding yang sudah menandatangani dokumen pada 29 Desember 2021, secara resmi telah aktif beroperasi. Dan 3 Januari 2022, melalui proses inbreng saham Anak Perusahaan resmi berada di bawah Subholding dan menjadi business operator masing-masing klaster. Pengalihan saham dikompensasikan dengan penambahan penyertaan modal Pelindo di Subholding,” kata Arif Suhartono. 

Prosesi penandatanganan akta inbreng anak perusahaan Pelindo kepada Subholding ini disaksikan secara daring oleh Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, secara langsung oleh Desty Arlaini Asisten Deputi Bidang Jasa Logistik Kementerian BUMN, Komisaris Utama Pelindo, Direksi Pelindo, Komisaris Utama dan Subholding Pelindo, serta Direksi Anak Perusahaan Pelindo.  

“Kerja keras ini belum tuntas, masih banyak tahapan-tahapan yang masih harus diselesaikan. Dan dalam hal ini, saya mengapresiasi manajemen Pelindo untuk membawa Pelindo menjadi the real world class port,” kata Komisaris Utama Pelindo Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio SIP MM. 

“Tahapan (inbreng) ini merupakan salah satu yang terpenting. Dimana kita akan mulai melakukan value creation dan menciptakan bisnis model baru yang diharapkan menjadi lokomotif pertumbuhan pendapatan, EBITDA maupun value creation dari Pelindo Group kedepan,” ujar Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo dalam sambutannya. 

Dia berharap pembentukan Subholding mampu menajamkan core competence masing-masing Subholding

“Ini adalah langkah utama tujuan merger Pelindo dimana kita ingin meng-unlock value dan membuat spesialisasi-spesialisasi yang nantinya menumbuhkan kompetensi-kompetensi yang bisa bersaing di tiap Subholding. Saya mengapresiasi langkah cepat ini, semuanya tepat dengan sasaran dan delivery yang sudah kita harapkan di awal,” tambah Kartika.    

Dalam laporannya, Hambra menyatakan, target value creation (earning before tax) sampai dengan 2025 adalah Rp4,3 triliun hingga Rp7,4 triliun. 

Adapun capaian value creation per 31 Desember 2021 telah terealisasi lebih dari Rp600 miliar yang berasal dari optimalisasi financing cost dan pengadaan bersama. 

Diharapkan tahun 2022 capaian value creation tersebut akan jauh lebih besar lagi melalui aksi korporasi dan inisiatif strategis yang telah direncanakan sebelumnya. 

“Harapan kami pada kuartal II 2022, bisnis inti perusahaan pada masing-masing Subholding telah tertata dengan baik sehingga dapat terkonsolidasi sesuai klaster bisnisnya masing-masing,” ujar Arif.  (hlz/hlz)


Komentar