Kamis, 13 Mei 2021 | 09:02 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Rabu, 28 April 2021 15:06

Pelindo 1 Sediakan Lahan dan Infrastruktur Dasar untuk Smelter Tembaga UREC

Translog Today
(Pelindo 1)

MEDAN - PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) melalui anak perusahaannya, PT Prima Pengembangan Kawasan (PPK), menyediakan lahan 100 hektare untuk pembangunan smelter tembaga Union Resources & Engineering Co Ltd (UREC) di Kawasan Industri Kuala Tanjung, Sumatera Utara.

Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) pemanfaatan lahan Pelindo 1 itu ditandatangani oleh Direktur Utama PT PPK Jansen Sitohang dan Chief Representative of Jakarta Office Indonesia UREC Co Ltd Meng Zhanqian di Grha Pelindo Satu Medan, Selasa (22/4/2021).

Acara penandatanganan MoU disaksikan langsung oleh Direktur Utama Pelindo 1 Prasetyo dan Direktur Teknik Pelindo 1 sekaligus Komisaris PT PPK Hosadi Apriza Putra.

Selain lahan seluas 100 ha yang terintegrasi dengan pelabuhan, Pelindo 1 melalui PT PPK juga akan menyediakan infrastruktur dasar untuk mendukung kegiatan smelter tembaga UREC tersebut.

Prasetyo mengatakan Pelindo 1 sudah menjalin kerja sama global bisnis logistik dengan sejumlah mitra strategis untuk mengakselerasi pengembangan Kuala Tanjung Port and Industrial Estate (PIE).

Dalam mengembangkan Kuala Tanjung PIE terdiri dari dua bagian terintegrasi yakni kawasan pelabuhan (Kuala Tanjung Multipurpose Terminal) dan kawasan industri (Kuala Tanjung Industrial Zone), Pelindo 1 akan menggandeng Zhejiang Seaport dan Port Rotterdam sebagai operator pelabuhan terbesar di Asia dan Eropa yang memiliki jaringan logistik global.

Pengembangan Kuala Tanjung PIE ditandai dengan pengoperasian Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) sejak tahun 2019 yang diproyeksikan sebagai the Next Indonesia's Logistic and Supply Chain Hub.

Pelabuhan ini didesain untuk mengakomodasi kapal-kapal berukuran besar dengan bobot 50.000 DWT (dead weight tonnage) serta berbagai jenis muatan, mulai dari petikemas, curah cair, hingga general cargo.

Adapun Kuala Tanjung Industrial Zone (KTIZ) dikembangkan di area seluas 3.400 ha dengan memiliki potensi segmen industri yang beragam, baik itu port associate industry maupun yang non-port associate industry, di antaranya aluminium, palm oil, iron & steel, rubber, petrochemical, produk makanan, dan industri lainnya.

Kawasan ini juga akan diperkuat dengan tersedianya berbagai layanan pendukung seperti bunkering service, logistic service, dan warehousing, serta dilengkapi juga dengan penyediaan listrik, jaringan pipa gas, air bersih, pengelolaan limbah, dan jaringan utilitas lainnya.

"Kami berterimakasih kepada UREC yang memilih Kawasan Industri Kuala Tanjung untuk membangun smelter, kami akan menyiapkan sumber daya untuk terus mendukung pembangunannya," kata Prasetyo.

Tarik Investasi

Dengan hadirnya UREC di Kuala Tanjung, dia berharap semakin banyak investor masuk ke Kawasan Industri Kuala Tanjung yang memiliki lokasi yang strategis dan terkoneksi jaringan transportasi terpadu jalan tol Trans-Sumatera dan jaringan kereta api, serta berada di Pulau Sumatra yang memiliki tiga pelabuhan besar yakni Pelabuhan Belawan, Dumai, dan Kuala Tanjung.

Kuala Tanjung PIE juga terintegrasi dan terhubung langsung dengan Kawasan Industri Sei Mangkei, yang merupakan kawasan industri yang terlebih dahulu ada di Sumatera Utara dan telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Selain itu Kuala Tanjung PIE akan menerapkan konsep smart port and smart industrial area. Ini didukung dengan perencanaan implementasi IoT (Internet of Things) dan ICT (Information and Communication Technology) di kawasan tersebut sehingga nantinya menjadi sebuah kawasan industri modern berskala Internasional.

Meng Zhanqian menyatakan pihaknya sangat senang bisa bekerja sama dengan Pelindo 1 dalam memanfaatkan lahan dan infrastruktur di Kawasan Industri Kuala Tanjung. Smelter tembaga UREC di Kuala Tanjung merupakan yang kedua di Indonesia setelah Gresik, Jawa Timur.

"Tak hanya pembangunan smelter, kami juga siap bersinergi dengan Pelindo 1 untuk melakukan kerja sama lainnya dengan melihat potensi-potensi kerjasama yang kita miliki," terang Meng Zhanqian.

UREC, adalah perusahaan integrasi sumber daya internasional yang bisnis utamanya meliputi kontrak rekayasa internasional, impor dan ekspor peralatan. UREC menjadi bagian dari Yunnan Province Energy Investment Group Co Ltd yang termasuk dalam jajaran perusahaan teratas di China. (hlz/hlz)


Komentar